Halaman

Senin, 04 Juni 2012

nada kehidupan


Hari ini, ni’mat yang ditanamkan Tuhan dihatimu sedang dipinjamnya lagi. Mungkin karena dirimu menyia-nyiakan kesempatan agung itu. harusnya kamu koreksi dirimu sendiri, apa yang membuatmu pantas untuk mendapatkan hal seperti ini. Kau kecewa, itu sudah pasti. Kau, sedih, itu memang pantas kau terima. Kau sendiri acuh dengan dirimu, bagaimana orang lain tidak akan acuh pada dirimu ?. sekarang bukan saatnya kau terpuruk pilu menyesali apa-apa yang telah berlalu. Belajarlah, ,,!!!
Selama kau masih bisa merasakan hembusan angin malam, Ada takdir Tuhan yang lain menunggumu. Selama kau masih bisa merasakan hangat sinar mentari pagi, ada takdir Tuhan yang lain menantimu. Selama hatimu masih bisa merasakan denyut kehidupan, ada takdir Tuhan lain yang akan menjemputmu.
Siapkan dirimu, siapkan hatimu dengan ketegaran-ketegaran baru.
Inilah nikmat yang hakiki, saat kau benar-benar merasa dirimu adalah mahluk yang paling rendah. Saat kau benar-benar merasa dirimu adalah mahluk paling hina.
Inilah nikmat yang hakiki, dia mengajarkanmu arti kekalahan. Dia mengajarkanmu untuk bersimpuh. Dia yang menegur kecongkakan-kecongkakanmu selama ini, dan dia pula yang mengantarkanmu kembali pada Ilahi Rabbi.
Tak perlu bersedih, bukankah ini sudah sering kau rasakan ? itu berarti kau sudah terbiasa dengan kekalahan seperti ini. Tak perlu menangis, karena cucuran air matamu hanya akan membuatmu semakin kurus. Tersenyumlah, meski senyum itu palsu, setidaknya orang lain tak akan tau dari airmukamu.
Sekarang ambilah selembar tisu dan usap airmatamu.
Tidurlah, biarlah sejenak masalah itu lenyap dalam kehidupanmu.

Selasa, 29 Mei 2012

YASINAN, BENARKAH SEBUAH BUDAYA ??


PENDAHULUAN

            Kebudayaan merupakan unsur penting bagi suatu bangsa untuk mennunjukkan identitas jati dirinnya. Eksistensi budaya memberikan warna tersendiri, menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan, membentuk ciri khas, serta menjadi subjek dalam perkembangan manusia menuju peradaban modern. Bangsa yang berdiri dengan kebudayaan yang melimpah, akan mendapatkan nilai tersendiri dari sorotan publik. Karena, bagaimanapun menyatukan perbedaan dalam satu atap kekuasaan tanpa adanya unsur intimidasi merupakan sesuatu yang sangat sulit dicapai kecuali hanya dapat dilakukan oleh bangsa yang besar.
            Iindonesia merupakan salah satu bangsa yang mampu mewujudkan hal yang hampir mustahil tersebut. bila kita amati kita akan temukan berbagai jenis produk indonesia yang tersebar dari  sabang sampai merauke mulai dari adat-istiadat, tradisi, suku, ras, agama, dan bahasa. kesemua unsur tersebut bersatu-padu mengikrarkan dalam satu janji membentuk negara kesatuan. Sehingga dapat dikatakan kekokohan bangsa indonesia bergantuung pada unsur budaya yang mengikatnya.
            Pada makalah ini, penulis mencoba memaparkan salah satu produk khasanah budaya indonesia yang telahberkembang dan mendarah daging di masyarakat indonesia, yaitu yasinan. Yasinan merupakan budaya yang tumbuh dan berkembangdikalangan masyarakat islam. Hampir dapat dipastikan, masyarakat islam yang berada diseluruh pelosok negeri indonesia yang menganut ajaran ahlussunnah waljama’ah terutama dari nahdlatul ulama’ mengakui dan menjalankan budaya yasinan sebagai sesuatu yang memberikan manfaat, bukan sesuatu yang sia-sia. Beberapa daerah menjalankan dengan tatacara yang sama dan beberapa daerah menjalankan dengan tatacara yang berbeda. Namun, pada makalah ini penulis akan memaparkan secara khusus perkembangan budaya yasinan yang berada didesa canag’an, kelurahan Bergaslor, kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang yang telah ada sejak puluhan tahun silam.



GAMBARAN UMUM DESA

            Desa canga’an yang berada dikelurahan Bergaslor, kec. Bergas, kab. Semarang merupakan desa yang masyarakat keseluruhannya beragama islam. desa ini berada dikawasan lereng gunung ungaran. Tepatnya 2km dari jalur bandungan-Semarang. Dari jalur utama arah bandungan kuran lebih 2,5 km dari pertigaan lemah abang disebelah kanan akan dijumpai sebuah pemakaman sebagai tetenger batas masuk desa Canga’an.
            Desa Canga’an merupakan desa transisi menuju peradaban modern. Akulturasi budaya-budaya baru yang masuk merombak tatanan budaya yang sebelumnya ada, bahkan sebagian menghapus budaya-budaya yang bersifat kejawen didaerah ini. Seleksi budaya terus berlanjut seiring berjalanya waktu. Untuk saat ini, budaya yang masih bertahan kebanyakan bersifat keislaman. Hal itu dapat diperkirakan dari mayoritas penduduk yang beragama islam.
            Tokoh agama  didesa ini berperan penting dalam menjaga stabilitas budaya islam. Beban yang dipikulpun tidak tanggung-tanggung,  seluruh masyarakat menggantungkan semua kegiatan keislaman dan menjalankan sesuai dari intruksi darinya.
            Namun, penduduk desa canga’an belum dapat dikatakan sebagai masyarakat islam tulen, karena mereka terlahir dilingkungan jawa. Kedalaman ilmu agamanya masih tergolong rendah. Didesa cangaan tidak ada kyai atau ulama. Seseorang akan secara otomatis mendapatkan julukan sebagai tokoh agama ketika seorang itu memiliki kedalaman ilmu yang cukup luas. Di Cangaan tidak hanya ada satu tokoh agama saja, ada banyak dan seluruhnya adalah seorang guru ngaji. Akan tetapi ada satu tokoh agama yang menjadi prioritas masyarakat, dia adalah imam masjid yang dipilih secara langsung dengan sistim demokrasi dari seluruh masyarakat desa cangaan. Melalui imam masjid lah kegiatan kegiatan keislaman dikontrol dan diintruksikan, termasuk pula budaya yasinan.



ASAL USUL BUDAYA YASINAN
           
            Budaya yasinan yang berada didesa Cangaan telah ada sejak puluhan hingga ratusan tahun yang lalu. Menurut hemat penulis, dengan acuan dari para ssesepuh desa, budaya yasina mulai ada saat sunan kalijaga mulai berkiprah dalam perjuangan islamisasi masyarakat Indonesia. Saat itu kondisi masyarakat jawa mayoritas masih menganut agama hindu-budha. Adanya kondisi demikian membuat sunan kalijaga mencurahkan segala akal pikirannya untuk meng-islamkan masyarakat tanpa adanya unsur intimidasi atau paksaan terhadap mereka. Buah pikir sunan kalijaga dalam proses pembenahan kepercayaan ini memunculkan adanya gagasan untuk memasukkan unsur-unsur islam pada setiap tradisi hindu-budha yang pada masa itu telah mendarah daging pada masyarakat. strategi ini pula yang dipakai oleh para sunan pada masa itu.
            Awalnya yasinan adalah tradisi masyarakat untuk memberikan persembahan atau sesajen kepada para leluhur, juga sebagai wujud pengabdian masyarakat kepada dewa-dewa yang mereka anggap berperan dalam kehidupan mereka. Sesajen yang mereka berikan berupa makanan , kembang, dupa, dan lain-lain. Upacara yang dilangsungkan pada saat itu dengan cara menaruh sesajen itu pada suatu tempat yang mereka anggap sakral, sebagian dari mereka mebangun rumah-rumah ibadat untuk melangsungkan upacara tersebut. Setelah itu mereka akan membacakan mantra-mantra sebagai media komunikasi pada para leluhur dan pada para dewa yang mereka puja. Kondisi seperti itu dimanfaatkan oleh sunan kalijaga dengan mengubah bacaan yang semula mantra menjadi bacaan-bacaan surat al qur an dan juga doa-doa islam. Salah satunya adalah bacaan yasin. Seusai acara tersebut sunan kalijaga menyampaikan mauidhah hasanah sebagai upaya memperkenalkan agama islam kepada masyarakat. Perlahan namun pasti, masyarakat mulai memiliki pandangan positif tentang isalam, mulai mengerti tentang islam, dan mulai menyadari kebenaran agama islam. Sedikit-demi sedikit masyarakat beralih kepercayaan meninggalkan kepercayaan lama mereka.
            Cara ini pernah ditentang oleh sunan Ampel. Sunan ampel menolak dengan keras karena adat istidat itu nanti oleh anak cucu kita dibelakang hari dianggap sebagai upacara agama islam dan berarti suatu bid’ah. Sikap sunan ampel itu dijawab oleh sunan kalijaga, bahwa ajaran selamatan/yasinan itu bisa disesuaikan dengan ajaran shodaqah didalam agama islam, hanya saja tentang i’tikad atau niat dan caranya nanti akan dijelaskan dan dirubah atau bisa disempurnakan oleh orang-orang islam sendiri dibelakang hari nanti. Darisitulah budaya yasinan muncul, berkembang dan  dipertahannkan sampai saat ini.
            Kontroversi budaya yasinan  dikalangan islam dari madzhab-madzhab yang berbeda berdampak munculnya islam-islam aliran baru. meski tidak semuanya dikarenakan oleh adanya budaya yasinan, namun perbedaan itu cukup memberikan efek besar bagi kestabilan ukhuwah masyarakat islam diindonesia. Akhirnya ada sebagian masyarakat islam yang menolak adanya budaya yasinan dan memilih meninggalkannya. Kebanyakan aliran itu adalah aliran modern dari golongan ulama kholaf.

TUJUAN PENYELENGGARAAN YASINAN

            Bagi masyarakat desa canga’an, yasinan merupakan sarana wujud syukur atas semua nikmat dan rizqi yang telah Allah SWT berikan kepada mereka. Masyarakat menyadari penuh bahwa syukur kepada Allah SWT merupakan kebutuhan yang tidak boleh ditinggalakan. Setiap hal mulai dari yang terkecil sampai yang terbesar, dari yang tampak sampai yang tidak tampak, kesemuanya adalah wujud kenikmatan yang tidak ternilai. Dalam praktiknya, sebenarnya wujud syukur itu dapat dialakukan dengan berbagi cara, tidak terbatas hanya dengan mangadakan acara yasinan.
            Selain hal diatas, masyarakat mengadakan acara yasinan untuk mengirimi bekal kepada orang-orang yang telah mati. Bekal disini diartikan sebagai pahala yang dimaksudkan agar simayit dialam kubur diberi keadaan yang baik, ditempatkan ditempat yang agung, dan diselamatkan dari fitnah akhirat. Masyarakat meyakini bahwa bacaan yasin yang mereka baca dan diniatkan untuk kebaikan si mayit bukanlah hal yang sia-sia. Ada manfaat yang akan diterima baik pada pembaca maupun kepada si mayit. Dalam mengkaji kebudayaan, pahala memang sulit untuk diterima oleh akal, karena sifatnya yang abstrak dan ilahiyat ( hanya Allah yang mengetahui ).
 Adanya kepercayaan dikalangan masyarakat yang diperkuat dengan dalil-dalil islam bahwa setiap malam jumat, ahli kubur akan mendatangi ahli waris untuk meminta kiriman, mereka tidak nampak karena bersifat ghaib. Masyarakatpun tidak dapat merasakan kedatangannya secara langsung pada waktu itu. Masyarakat percaya apabila saat itu si mayit tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka akan pulang ke alam kubur dengan keadaan melas, menangis, dan menderita. Selanjutnya si mayit akan berdoa agar keburukan menimpa ahli waris mereka. Kepercayaan ini merupakan warisan dari para sesepuh yang diperoleh dari para sesepuh terdahulu, dan juga diperkuat oleh hadits yang pernah disampaikan oleh Nabi Muhammad.

PROSES KEGIATAN YASINAN

            Seperti telah dikemukakan sebelumnya, kegiatan yasinan ini dilaksanakan setiap malam jumat tepatnya ba’da magrib. Tempat pelaksanaan dilakukan secara bergilir dari rumah kerumah. Kegiatan ini diikuti khusus untuk laki-laki. Tidak ada batasan umur ataupun status. Setiap orang berhak mengikuti karena kegiatan ini memang diselenggarakan oleh warga dan untuk warga.
            Seusai jamaah sholat magrib, para jamaah mengadakan acara tahlilan dimasjid terlebih dahulu, yang dipimpin langsung oleh imam masjid. Tahlilan ini berlangsung selama kurang lebih 20 menit. Setelah selesai tahlilan sekaligus doa, seseorang yang sebelumnya diberi amanat akan meworo-worokan tempat atau lokasi diadakannya acara yasinan. Setelah itu warga akan berbondong-bindong menuju rumah yang telah disiarkan sebelumnya. Sebelum memasuki ruangnya, pemilik rumah menyabut kedatangan warga dengan cara menjabat tangannya satu persatu lalu mempersilahkan masuk. Didalam ruangan warga duduk melumah secara beraturan membentuk shaf-shaf.
            Sebelum acara dimulai, ada waktu berkisar 10 sampai 20 menit untuk menunggu warga yang belum hadir. Biasannya, sambil menunggu warga akan menyulut rokok yang telah disediakan oleh tuan rumah. Rokok yang disediakan biasanya kretek yang memiliki filosofis bahwa rokok kretek itu bersifat padat dan tahan lama, artinya tuan rumah berharap agar rezqi yang diberikan kepadanya bersifat padat ( banyak ) dan tahan lama ( awet / langgeng ). Setelah diperkirakan warga telah datang semua acara dimulai  dengan isyarat tepukan tangan olen pemimpin acara yasinan ini. Pemimpin acara yasinan ini bebas, artinya siapa saja yang segan diperkenankan untuk memimpin acara yasinan.

            Yasinan diawali dengan bacaan syahadat 3 kali daan istighfar 3 kali. Selanjutnnya khadoroh kepada Nabi Muhammad, para sahabat Nabi, keluarga Nabi, para pengikut Nabi, para ulama’ lalu  fatihah bersama. Khadoroh berikutnya untuk para ahli kubur yang sebelumnya telah ditulis oleh tuan rumah. Ahli kubur yang ditulis oleh tuan rumah biasanya masih memiliki nasab dengan keluarga, seperti bapak /ibu yang telah meninggal, kakek-nenek, buyut, dan seterusnya, lalu membaca fatihah lagi. Dan terahir khadoroh untuk seluruh ahli kubur muslimin wal muslimat dan mu’minin wal mu’minat. Selesai, selanjutnya membaca surat yasin secara serempak.
            Sebenarnya ada kesamaan antara yasinan dengan tahlilan, hanya yang membedakan pada acara yasinan ditambahi bacaan surat yasin, sedang pada acara tahlilan tidak ada bacaan surat yasin. Selesai membaca surat yasin dilanjut dengan tahlilan dan terahir ditutup dengan doa yang diamini oleh seluruh jamaah yang ikut. Setelah selesai, sebelum para jamaah meninggalkan majlis, tuan rumah mengelurkan hidangan makanan yang disajikan diatas piring. Makanan yang dikeluarkan biasanya berupa cemilan. Penyajian cemilan ini diniatkan untuk sedekah yang nantinya manfaat dapat diterima baik untuk para jamaah, tuan rumah, dan terutama untuk si mayit. Selain itu sedekah ini juga diniatkan sebagai wujud syukur kepada Allah SWT.



KESIMPULAN

            Acara yasinan adalah acara yang dilestarikan didesa canga’an, dan mungkin dibeberapa daerah lainnya. Acara yasinan merupakan akulturasi budaya hindu-budha dengan budaya islam. Yasinan didesa cangaan telah ada sejak puluhan tahun yang lalu, budaya ini melekat dimasyarakat karena memiliki nilai religius, nilai historis yang tinggi dan mengandung manfaat yang besar. Setiap warga yang menjalankan acara ini memiliki tujuan yang sama yaitu sebagai wujud syukur nikmat dan sebagai perantara untuk memberi manfaat kepada ahli kubur. Acara ini dilakukan dengan serangkaian acara yang semi-formal. Tidak ada paksaan untuk mengikuti acara ini, begitu juga tidak ada paksaan untuk menyelenggarakan acara ini. yasinan bukanlah sebuah tradisi islam karna pada jaman Rosul tidak ada acara yasinan. Namun, keabsahan acara yasinan telah di shahihkan oleh para pelopor islam ditanah air terdahulu.
Sebagai khasanah budaya bangsa, acara yasinan patut untuk dilestarikan karna menjaga kebudayaan bangsa berarti juga menjaga stabilitas kehidupan bangsa. Menolak acara yasinan tidak harus dilakukan dengan cara memberikan serangan secara sporadis kepada masyarakat yang menjalankannya karena itu jelas merusak tatanan persatuan bangsa, tidak perlu adanya hujatan-hujatan untuk menolak acara ini. Meluruskan bukan berarti mengintimidasi. Setiap warga negara  memperoleh perlindungan untuk menjalankan apa yang diyakininya.

Sekian